Cintanya. Sabarnya. Surga

Keberaniannya menumbuhkan cintaku

Kesabarannya menghidupkan cintaku

Cintanya…

…membuka gerbang surgaNya untukku

Iklan

Nanti. Sekarang.

Kenapa harus “nanti”?

Kenapa tidak “sekarang”?

Bagaimana jika umurmu,

umurku,

umur kita

hanya sampai “sekarang” dan…

…tidak sampai “nanti”?

7 Menit

Lorong ramai.

Aku duduk memeluk lutut.

Suara jantung terdengar dimana-mana…

…kupastikan salah satunya adalah jantungku,

tapi entah dimana jantungku berada.

Kedua ibu jari kakiku berhadapan dengan diktat.

7 menit lagi pintu di sebelahku akan terbuka.

7 menit lagi giliranku.

Hujan. Pertanda.

“Hujan itu pertanda.

Pertanda aku yang tak bisa menahan rasa rinduku padamu”

…..

Tak ada kata balasan yang dapat kuucap.

Tersipu aku dibuatnya.

Tak lagi kubenci hujan,

karena hujan itu…

…kamu.

Terakhir

Jika ini memang yang terakhir,

mari kita nikmati yang terakhir ini…

…apapun rasanya.

Hebat

Dia begitu hebat.

Dia mampu membuat jantungku berdetak sangat kencang.

Bukan.

Bukan karena cintanya.

Dia mampu membuat jantungku berdetak sangat kencang…

…ketika aku tak segera shalat setelah adzan berkumandang.

Hati. Mati.

Aku duduk dalam diam.

Jemariku saling beradu.

Kulihat hatiku terbaring kaku…

…pucat.

Kali ini, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Bagaimana?”

“Mati”

Meminta. Memohon. Maaf.

Matanya meminta,

meminta kepadaku untuk membuatkan senyum untuknya.

Matanya memohon,

memohon kepadaku untuk memberinya bahagia.

Tapi tak bisa kuberikan itu sekarang.

Entah kapan.

Maaf.